PERTEMUAN KE - 6 KERUSAKAN PEKERJAAN BETON BERTULANG DAN LAPISAN BERASPAL BESERTA PENANGANAN NYA
TUGAS
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK
Buat detail penjelasan yang lengkap terkait:
1. Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan beton bertulang dan jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yang terjadi pada pekerjaan beton bertulang
2. Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan lapisan campuran beraspal dan jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yang terjadi pada kerusakan yang terjadi pada perkerasan lapisan campuran beraspal)
Beton bertulang atau reinforced concrete atau di singkat RC juga di sebut beton semen bertulang atau reinforced cement concrete atau di singkat RCC adalah material komposit di mana kekuatan dan dakltilitis beton yang relatif rendah diimbangi dengan dimasukkanya tulangan yang memiliki kekuatan atau daktilitas yang lebih tinggi. Tulangan biasanya, meskipun tidak harus, berupa tulangan baja (tulangan) dan biasanya tertanam secara pasif di beton sebelum beton dipasang. Skema perkuatan umumnya di rancang untuk menahan tegangan tarik pada daerah beton tertentu yang dapat menyebabkan keretakan atau kegagalan struktual. Beton bertulang modern dapat mengandung beragam bahan penguat yang terbuat dari baja, polimer, atau material komposit altenatif, baik di sertai tulangan atau tidak. Beton bertulang juga dapat mengalami tekanan permanen (beton dalam kompresi, tulangan dan tegangan), sehingga dapat meningkatkan sifat-sifat struktur bangunan ketika dikenai beban
Beton bertulang merupakan material yang digunakan pada sebagian besar konstruksi bangunan, baik besar maupun kecil, misalnya gedung, bendungan, jembatan, perkerasan jalan dan bangunan teknik sipil lainnya. Struktur beton bertulang lebih sering digunakan dalam sebuah pekerjaan konstruksi dibandingkan dengan jenis struktur lainnya. Salah satu alasannya dikarenakan jenis beton yang satu ini dapat bekerja dengan baik dalam suatu sistem struktur, khususnya dalam mengemban tugas menahan gaya tarik.
Beton mampu menahan dengan kuat daya tekan, akan tetapi lemah di dalam menahan gaya tarik yang melebihi nilai tertentu yang jika melebihinya akan mengalami retak-retak. Oleh karena itu perlu dibantu dengan memberinya perkuatan penulangan (baja tulangan) untuk menanggung gaya tarik yang bekerja, yaitu berupa batang-batang baja yang disebut tulangan.
Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan beton bertulang
Ada beberapa macam Kerusakan yang sering terjadi dalam beton bertulang:
a. Retak ( cracks)
adalah pecah pada beton dalam garis-garis yang relatif panjang dan sempit, retak ini dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab: diantaranya : evaporasi air dalam campuran beton terjadi dengan cepat akibat cuaca yang panas, kering atau berangin. Retak akibat keadaan ini disebut plastic cracking, Bleeding yang berlebihan pada beton, biasanya akibat proses curing yang tidak sempurna. Retakan bersifat dangkal dan saling berhubungan pada seluruh permukaan pada plat, retak jenis ini disebut crazing. Pergerakan struktur, sambungan yang tidak baik pada pertemuan kolom dengan balok atau plat, atau tanah yang tidak stabil. Retakan bersifat dalam atau lebar, retak jenis ini disebut random cracks Reaksi antara alkali dan agregat
·
Retak
struktural, struktural adalah retak yang
berpengaruh terhadap kekuatan struktur dan disebabkan oleh Momen yang melebihi
ijin (tengah bentang); Gaya lintang atau Kombinasi monen dan gaya lintang
·
Retak
non struktural, Penanganan Kerusakan Beton Retak non
Struktural yaitu retak yang tidak mempengaruhi kekuatan struktural secara
langsung seperti retak susut, akibat suhu, akibat reaksi kimia dll. walaupun
demikian secara jangka panjang tetap berbahaya terhadap struktur.
b. Lubang-lubang pada beton bertulang (void)
Voids adalah lubang-lubang yang relatif dalam dan lebar pada beton, voids pada beton dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab diantaranya pemadatan yang dilakukan dengan vibrator kurang baik, karena jarak antar bekisting dengan tulangan atau jarak antar tulangan terlalu sempit sehingga bagian mortar tidak dapat mengisi rongga antara agregat kasar dengan baik. Void yang terjadi berupa lubang-lubang tidak teratur yang disebut honey combing. Bocor pada bekisting yang menyebabkan air atau pasta semen keluar, akan lebih parah jika campuran banyak mengandung air, atau banyak pasta semen atau gradasi agregat yang kurang baik. Keadaan ini disebut sand streaking
c. scalling/erosion/spalling
adalah kelupasan dangkal pada permukaan, yang dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab, diantaranya: Eksposisi yang berulang-ulang terhadap pembekuan dan pencairan sehingga permukaan terkelupas, keadaan ini disebut scalling Melekatnya material pada permukaan bekisting sehingga permukaan beton terlepas dalam kepingan atau bongkah kecil, keadaan ini disebut spalling Terlepasnya partikel-partikel sehalus debu yang dapat terdiri dari semen yang sangat halus atau agregat yang sangat halus, terlepas akibat abrasi misalnya saat lantai disapu, hal semacam ini disebut dusting. Terdapatnya material organic dalam campuran, kontaminasi yang reaktf atau korosi pada tulangan dapat menimbulkan rongga pada beton yang disebut sebagai popouts, juga dapat disebabkan ekspansi agregat yang pourous segera setelah pengecoran sampai setahun lebih tergantung permeabilitas beton dan ketidakstabilan volume agregat yang digunakan. Disintegrasi beton pada titik-titik dimana terdapat aliran air turbulen akibat pecahnya gelembung-gelembung pada air, erosi seperti ini sering disebut water cavitation. Erosi oleh air dimana abrasi oleh benda-benda padat yang tersuspensi dalam air terhadap permukaan beton mengakibatkan disintegrasi beton sepanjang alur aliran air
d. Lekatan baja beton
kekuatan lekatan dipengaruhi kekasaran permukan baja, kualitas beton disekitar tulangan. Kegagalan lekatan berakibat menurunnya daya dukung komponen struktur terhadap beban yang bekerja, meningkatnya deformasi, bahkan runtuhnya struktur. Kegagalan lekatan bisa diakibatkan korosi pada tulangan, kebakaran, tipisnya selimut beton, jarak tulangan yang rapat serta diameter tulangan yang besar dan gaya siklis akibat gempa. Korosi pada baja tulangan biasanya dikenali dengan bercak karat pada permukaan beton, korosi mudah terjadi pada lingkungan asam namun bila terdapat ion chlorida, proses karat dapat terjadi pada lingkungan basa. Kebakaran, pengaruhnya tergantung lama terjadinya serta tingginya temperatur. Pengaruh kebakaran terhadap kekuatan komponen beton yaitu menurunnya kuat tekan, modulus elastisitas, kuat lekat baja serta ekspansi longitudinal dan radial. Sedangkan akibat gempa, saat terjadi gempa bukan saja diuji secara siklis namun beban yang bekerja pada komponen struktur telah mendekati batas kemampuan komponen dalam memikul beban yang bekerja.
e. Penurunan pondasi
Pada sebagian konstruksi, kondisi tanah kurang mendukung untuk bangunan yang kokoh dan berkualitas. Beberapa kasus yang terjadi ialah daya dukung tanah tidak seragam pada sebagian lingkungan bangunan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dan penurunan pondasi. Sedangkan komponen yang sering rusak ialah pada dinding pengisi.
f. Adanya serangan kimia
penggunaan fly ash pada campuran beton berpotensi serangan kimia terutama lingkungan bersulfat, selain itu tegangan internal yang disebabkan oleh mengembangnya unsur akibat bereaksinya unsur tertentu pada beton, Ca (OH)2, dengan unsur kimia penyerang. Air laut mengandung sulfat yang secara kimiawi dapat menyerang beton, selain itu dapat juga berasal dari nsur asam SO2 dan CO2 yang bersifat melarutkan unsur semen pada beton
Pada sebagian konstruksi, kondisi tanah kurang mendukung untuk bangunan yang kokoh dan berkualitas. Beberapa kasus yang terjadi ialah daya dukung tanah tidak seragam pada sebagian lingkungan bangunan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dan penurunan pondasi. Sedangkan komponen yang sering rusak ialah pada dinding pengisi
g. Tulangan bengkok
Kerusakan pada kolom dimana tulangan besi utama terlihat bengkok, secara kasat mata terlihat kolom sedikit bengkok, hal ini di akibatkan kurangnya jumlah dan atau kurangnya ukuran besi pengikat (sengkang)
h. Beton tidak merata menggelembung atau bunting
Kerusakan beton karena beton yang mengembang tidak sesuai dengan bekistin yang di buat. Penyebabnya adalah bekisting tidak mampu menahan beban beton basah saat pengecoran, ini dapat disebabkan karena bekisting yang tidak memenuhi syarat.
Ada beberapa Penyebab kerusakan pada beton adalah sebagai berikut:
- Penggunaan vibrator, Yang menajdi salah satu penyebab kerusakan pada beton, kita bisa memaksimalkan pengunan vibrtor tetapi hanya untuk proses pemadatan sesuai dengan aturan yang berlaku.
- Faktor cuaca, Untuk semua jenis beton, penyebab kerusakan berupa faktor cuaca seringkali tidak bisa dihindari. Namun dengan penanganan yang tepat maka kontruksi tidak akan terganggu.
- Tinggi jatuh pengecoran, Utnuk menghindari kerusakan ini kita bisa melakukan pembatasan tinggi jatuh pengecoran 2-4 feet dan menjatuhkan campuran secara vertikal
- Kesalahan pembesian, pastikan anda sudah melakukan pemeriksaan terhadap tulangan sebelum melakukan pemasangan bekisting. Lakukan pemasangan sesuai SNI agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.
- Kesalahan pelepasan bekisting, dalam hal ini anda harus mendapat persetujuan dari pihak kontraktor dengan melihat hasil uji kuat tekan.
- Dilatasi pengecoran, untuk hal ini seharusnya pengecoran dilakukan selapis demi selapis. Jangn terlalu tebal (maksimal 500 mm) dan pastikan tebalnya tidak melebihi panjang batang penggetar.
- Kegagalan design, pastikan bahwa desain struktur sudah sesuai dengan rencana awal. Pengecekan awal dan berkala selama proses konstruksi dilakukan sangat penting untuk menghindari kegagalan design yang menyebabkan beton rusak.
- Beban tambahan yang tidak sesuai, agar tidak terjadi anda bisa berdiskusi terlebih dahulu dengan pihak konsultan perencana. Jika terpaksa ada penambahan beban, maka perkuatan struktur harus dilakukan terlebih dahulu.
- Kesalahan saat proses curing, untuk mencegah hal ini anda harus mengikuti semua ketentuan yang berlaku dalam SNI tentang lama curing dan bagaimana cara curing yang benar.
Pemilihan material untuk perbaikan
pemilihan material yang sesuai merupakan persyaratan yang absolut untuk menghasilakan perbaikan yang tahan lama, karena sifatnya dekat dengan beton yang akan diperbaiki, seringkali beton yang dibuat dengan semen Portland atau komposisi yang bersifat cementitious lainnya merupakan pilihan yang terbaik untuk material perbaikan. Namun kebutuhan lainnya seperti kondisi kerja tertentu, pencapaian kekuatan secara cepat, perbaikan yang memerlukan ketahanan
terhadap serangan bahan kimiawi atau kebutuhan untuk memperoleh permukaan yang estetik seringkali mengakibatkan pilihan jatuh pada material lainnya.
Sifat-sifat yang di butuhkan pada material perbaikan
a. Stabilitas Dimensional
Salah satu persyaratan utama bagi perbaikan yang berhasil adalah adanya lekatan yang sempurna antara material yang baru dan beton atau substrate yang ada di bawahnya. Rusaknya lekatan ini biasanya disebabkan oleh terjadinya perubahan dimensional akibat susut. Susut yang terjadi pada beton biasanya diperhitungkan dengan memberikan sambungan (joint) yang dapat mengontrol keretakan. Sementara itu sebagian besar perbaikan dilakukan pada beton lama yang sudah tidak mengalami susut lagi sehingga material yang digunakan untuk perbaikan harus bebas dari susut atau dapat menyusut tanpa merusak lekatan dengan beton lama.
b. Koefisien ekspansi thermal
Semua material akan berekspansi dan berkontraksi apabila terjadi perubahan temperatur. Untuk suatu perubahan temperatur tertentu, besar ekspansi serta konstraksi ini tergantung dari koefisien ekspansi thermal material. Koefisien ekspansi thermal untuk beton adalah 0,000006 s.d 0,000012 cm/o c. Jika komposit dari dua material yang memiliki koefisien thermal yang jauh berbeda mengalami perubahan temperatur yang berarti, perbedaan dalam perubahan volume ini akan mengakibatkan kerusakan pada garis lekatan atau di dalam penampang yang memiliki kekuatan yang lebih rendah.
c. Modulus elastisitas
Modulus elastisitas suatu material merupakan ukuran bagi kekakuannya. Material dengan modulus elastisitas yang tinggi tidak berdeformasi sebanyak material dengan modulus elastisitas yang lebih rendah ketika menerima beban.Bila dua material dengan modulus elastisitas yang jauh berbeda berada dalam kontak satu terhadap yang lain material dengan modulus elastisitas lebih rendah cenderung untuk meleleh atau melengkung/menggelembung ketika menerima beban. Selain beban luar yang dapat menimbulkan kerusakan pada komposit dengan perbedaan modulus elastisitas yang besar, susut atau pergerakan thermal pun dapat mengakibatkan hilangnya lekatan (bond) kecuali bila modulus elastisitas material perbaikan cukup rendah sehingga memungkinkan pergerakan tanpa menimbulkan tegangan yang eksesif pada garis lekatan.
d. Permeabilitas
Permeabilitas berhubungan dengan kemampuan material untuk melakukan cairan atau uap. Beton berkualiatas baik secara relatif bersifat tidak permeabel terhadap cairan tetapi dapat mentransmisikan uap secara bebas. Bila suatu material yang tidak permeabel digunakan untuk tambalan yang besar, overlay atau lapisan permukaan (surface coating), uap lembab yang naik ke atas melalui beton yang terdapat di dasar akan terperangkap diantara beton dan perbaikan tersebut. Kelembaban yang terperangkap dapat mengakibatkan kerusakan pada garis lekatan atau pada material yang lebih lemah. Material yang tidak permeabel juga umumnya harus dihindarkan pada perbaikan beton yang rusak akibat koprosi pada tulangan.
Jenis-jenis material untuk perbaikan
a. Cementitious
Material ini berkisar dari mortar dan grout serta beton yang konvensional sampai kepada material dengan sifat-sifat yang diperbaiki sesuai kebutuhan dengan menggunakan admixtures. Penggunaan admixtures antara lain dapat menghasilkan sifat-sifat kohesif, pencapaian kekuatan secara cepat, kelecakan yang lebih tinggi, daya tahan terhadap tercucinya semen dan pengurangan bleeding serta susut.
b. Material yang berbahan dasar resin: Epoxy
Material ini umumnya dibuat atas dasar epoxy resin dan meliputi resin untuk injeksi (injection resins), mortar yang dapat dicor dan pasta yang dapat diterapkan dengan tangan. Epoxy mortar terdiri dari resin hardener dan filler yang terdiri dari pasir halus , sedangkan epoxy concrete terdiri dari resin, hardener, pasir halus dan agregat kasar ukuran kecil.
c. Elastomeric Sealants
Bila retak yang diperbaiki mengalami pergerakan yang berarti, pilihan untuk material yang digunakan sering jatuh pada material ini. Dua tipe elastomeric sealant yang biasa dipakai : hot-applied, yang biasanya merupakan campuran material yang bituminous dengan karet yang kompatibel, cold applied yang dapat didasarkan atas berbagai material dan biasanya harus dicampur di lapangan.
d. Silicones
Biasanya digunakan sebagai material perbaikan untuk masalah uap air melalui dinding. Ada dua cara pembuatannya yaitu dengan melarutkan bahan silicone padat pada suatu pelarut atau membuat garam alkali dari asam siliconic dan melarutkannya dalam air. Larutan material ini disemprotkan ke dinding dengan kecepatan 3m2 /ltr dan ketika pelarutnya menguap, silicon resin tertinggal di dalam struktur pori dinding.
e. Bentonite
Merupakan bubuk batuan yang diambil dari debu vulkanik yang mengandung mineral tanah liat dengan persentase tinggi terutama sodium bentonite. Material ini dapat mengabsorpsi air dalam kuantitas banyak dan mengembang sampai 30 kali volumenya semula dan membentuk massa yang menyerupai jelly yang efektif berfungsi sebagai penghalang air.
f. Bituminous Coating
Yang berbahan dasar aspal atau coal ter sering digunakan sebagai waterproofing pada beton atau untuk perlindungan terhadap pelapukan
Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan lapisan campuran beraspal dan jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut
Campuran beraspal adalah suatu kombinasi campuran antara agregat dan aspal. Dalam campuran beraspal, aspal berperan sebagai pengikat atau lem antar partikel agregat, dan agregat sendiri berperan sebagai tulangan. Sifat-sifat mekanis aspal dalam campuran beraspal diperoleh dari bahan-bahan pembentuk aspalnya.
a. Alligator cracks
Retak kulit buaya adalah retak yang berbentuk sebuah jaringan dari bidang bersegi banyak (poligon) kecil-kecil menyerupai kulit buaya, dengan lebar celah lebih besar atau sama dengan 3 mm. Ukuran retak yang saling berhubungan berkisar antara 2,5 cm – 15 cm.
Faktor penyebab kerusakan :
- Kegagalan lapis permukaan atau lapis pondasi akibat beban berulang-ulang,
- Defleksi berlebih dari lapis permukaan, Daya dukung tanah dasar rendah,
- Gerakan satu atau lebih lapisan yang berada di bawah,
- Modulus dari material lapis pondasi (base) rendah,
- Lapis pondasi atau lapis aus terlalu getas, Kelelahan (fatigue) dari permukaan.
b. Bleeding
Kegemukan adalah hasil dari aspal pengikat yang berlebih yang bermigrasi ke atas permukaan perkerasan. Kelebihan kadar aspal atau terlalu rendahnya kadar udara dalam campuran, dapat mengakibatkan kegemukan. Kegemukan juga menyababkan tenggelamnya agregat (parsial maupun keseluruhan) ke dalam pengikat aspal yang menyebabkan berkurangnya kontak antara ban kendaraan dan batuan. Kerusakan ini menyebabkan permukaan jalan menjadi licin. Pada temperatur tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda.
Faktor penyebab kerusakan :
- Pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal,
- Kadar udara dalam campuran aspal terlalu rendah,
- Pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prime coat atau tack coat,
- Pada tambalan, terlalu banyaknya aspal di bawah permukaan tambalan.
c. Amblas (Depression)
Amblas adalah penurunan perkerasan yang terjadi pada area terbatas yang dapat diikuti dengan retakan. Penurunan ditandai dengan adanya genangan air pada permukaan perkerasan yang membahayakan lalu-lintas yang lewat.
Faktor penyebab kerusakan :
- Beban lalu-lintas berlebih,
- Penurunan sebagian dari perkerasan akibat lapisan di bawah perkerasan mengalami penurunan
d. Retak kotak-kotak (block cracking)
Retak blok ini berbentuk blok-blok besar yang saling bersambungan, dengan ukuran sisi blok 0,20 sampai 3 meter, dan dapat membentuk sudut atau pojok yang tajam.
Faktor penyebabnya
- kerusakan Perubahan volume atau penyusutan campuran aspal yang mempunyai kadar agregat halus tinggi dari aspal penetrasi rendah dan agregat yang mudah menyerap (odsorptive aggregate),
- Pengikat aspal bersifat relatif getas/kaku, Pengaruh siklus temperatur harian dan pengerasan aspal,
- Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya,
- Retak akibat kelelahan (fatigue) dalam lapis aus aspal.
e. Cekungan (bunb and sags)
Benjol adalah gerakan atau perpindahan ke atas, bersifat lokal dan kecil, dari permukaan perkerasan aspal, sedangkan penurunan (sags) yang juga berukuran kecil, merupakan gerakan kebawah dari permukaan perkerasan (shahin, 1994) / (christady, 2015). Bila distori dan perpindahan yang terjadi dalam area yang luas dan menyebabkan naiknya area perkerasan secara luas, maka disebut “mengembang” (swelling).
Faktor penyebab kerusakan :
- Tekukan atau penggembungan dari perkerasan plat beton dibagian bawah yang diberi lapis tambalan (overlay) dengan aspal,
- Kenaikan oleh pembekuan es (lensa-lensa es),
- Infiltasi dan penumpukan material dalam retakan yang diikuti dengan pengaruh beban lalu-lintas.
f. Retak Memanjang/Melintang (Longitudinal and Transverse Cracking)
Retak berbentuk memanjang pada perkerasan jalan, dapat terjadi dalam bentuk tunggal atau berderet yang sejajar, dan kadang-kadang sedikit bercabang.
Faktor penyebab kerusakan :
- Gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesek internal dalam lapis pondasi (base) atau tanah dasar,
- sehingga lapisan tersebut kurang setabil,
- Adanya perubahan volume tanah didalam tanah dasar oleh gerakan vertikal,
- Penurunan tanah timbunan atau bergeraknya lereng timbunan.
- Lebar celah bisa mencapai 6 mm, sehingga memungkinkan adanya infiltrasi air dari permukaan.
g. Tambalan (Patching and Utility Cut Patching) Tambalan (patch)
adalah penutup bagian perkerasan yang mengalami perbaikan. Kerusakan tambalan dapat diikuti/tidak diikuti oleh hilangnya kenyamanan kendaraan (kegagalan fungsional) atau rusaknya struktur perkerasan. Rusaknya tambalan menimbulkan distorsi, disintegrasi, retak atau terkelupas antara tambalan dan permukaan perkerasan asli. Kerusakan tambalan dapat terjadi karena permukaannya yang menonjol atau amblas 37 terhadap permukaan perkerasan. Jika kerusakan terjadi pada tambalan, maka kerusakan tersebut belum tentu disebabkan oleh lapisan yang masih utuh.
h. Lubang (Pothole)
Lubang adalah lekukan/lubang di permukaan perkerasan akibat hilangnya lapis aus dan material lapis pondasi (base).
Faktor penyebab kerusakan :
- Campuran material lapis permukaan yang kurang baik,
- Air masuk kedalam lapis pondasi lewat retakan di permukaan perkerasan yang tidak segera di tutup,
- Beban lalu-lintas yang mengakibatkan disintegrasi lapis pondasi,
- Tercabutnya aspal pada lapis aus akibat melekat pada ban kendaraan.
i. Patah slip (slippage cracking)
Retak slip atau retak berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh gayagaya horizontal yang berasal dari kendaraan. Retak ini diakibatkan oleh kurangnya ikatan antara lapisan permukaan dengan lapisan di bawahnya, sehingga terjadi penggelinciran. Jarak retakan sering berdekatan dan berkelompok secara paralel. Retakan ini sering terjadi pada tempat-tempat kendaraan mengerem, yaitu pada saat turun dari bukit.
j. Sweel atau mengembang jembul
Mengembang adalah gerakan ke atas lokal dari perkerasan akibat pengembangan (atau pembekuan air) dari tanah dasar atau dari bagian struktur perkerasan. Perkerasan yang naik akibat tanah dasar yang mengembang ini dapat menyebabkan retaknya permukaan aspal,
faktor penyebab kerusakan:
- Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau tanah dasar.
- Tanah dasar perkerasan mengembang, bila kadar air naik. Umumnya, hal ini terjadi bila tanah pondasi berupa lempung yang mudah mengembang (lempung montmorillonite) oleh kenaikan kadar air
Jenis-jenis penanganan untuk kerusakan pada pelapisan beraspal
a. Penebaran pasir (sanding)
· Tebarkan pasir kasar
· Ratakan dengan sapu
b. Laburan aspal setempat
· Bersihkan bagian yang akan ditangani, permukaan jalan harus bersih
· Beri tanda persegi pada daerah yang akan ditangani, dengan cat atau kapur
· Semprotkan aspal emulsi sebanyak 1.5 kg/m2 pada bagian yang sudah di beri tanda hingga merata
· Tebarkan pasir kasar atau agregat halus
· Bila digunakan agregat halus, padatkan dengan alat pemadat ringan
c. Melapis retakan (crack sealing)
· Buat campuran aspal emulsi dengan pasir, dengan perbandingan pasir 20 liter dan aspal emulsi 6 liter.
· Aduk campuran tersebut hingga merata
· Tebar dan ratakan campuran tersebut pada seluruh daerah yang sudah di beri tanda
d. Mengisi retakan (crack filling)
· Isi retakan dengan aspal minyak panas
· Tutup retakan yang sudah diisi aspal dengan pasir kasar
e. Penambalan lubang (patching)
· Gali lapisan jalan pada daerah yang sudah di beri tanda persegi, hingga mencapai lapisan yang padat
· Tepi galian harus tegak, dasar galian harus rata dan mendatar
· Padatkan dasar galian
· Isi lubang galian dengan bahan pengganti yaitu, bahan lapis pondasi agregat atau campuran aspal dingin
· Padatkan lapis demi lapis
· Lakuakan laburan aspal setempat di atas lapisan terakhir
f. Perataan (levelling)
· Siapkan campuran aspal dingin
· Semprotkan lapisan perekat dengan takaran 0.5 kg/m2
· Tebarkan campuran aspal dingin pada daerah yang sudah ditandai. Ratakan dan lebihkan ketebalah hamparan kira kira 1/3 dalam cekungan
· Padatkan dengan mesin penggilas hingga rata
Komentar
Posting Komentar